PTK MAKALAH TESIS

Just another WordPress.com weblog

  • penanggalan

    Juni 2009
    S S R K J S M
         
    1234567
    891011121314
    15161718192021
    22232425262728
    2930  
  • PTK

    Banyak Guru Yang bingung engan PTK, dua tahun kemarin tiak begini.. ternyata syarat fortopolio sertifikasi menjadikan mereka ingin membuat ptk, tapi jika gak bisa??? pasti ada solusi. Blog's ini SLUSINYA
  • rekor TOP

    • Tak ada
  • KATA KAMU

    Mr WordPress di Hello world!

DRAMA : CINERELA MODERN

Posted by ptkmakalah pada Juni 19, 2009

CINDERELLA
MODERN

Disusun Oleh:
……………………………….

SMPN NEGERI 1 ……………..
TAHUN PELAJARAN 2006-2007

BABAK I

Suatu pagi di sebuah rumah yang jauh dari kerajaan terdengarlah Cindi yang sedang memanggil Cinderella.
Cindi : “Cinderella… Cinderella… cepatlah kemari aku membutuhkanmu sekarang!” (Dengan penuh nada keras).
Cinderella : “Iya, sebentar, (sambil berjalan menuju Cindi) ada apa Cindi? Kamu ada perlu apa?”
Cindi : “Tolong kamu belikan aku roti bakar yang ada di toko Pak Salim, sekarang!” (dengan nada sinis dan memaksa).
Cinderella : “Tapi aku kan sedang bersih-bersih rumah dan itupun belum selesai, jika kamu mau roti bakar? Lebih baik kamu beli sendiri aja deh.”
Cindi : (Sambil marah) Jika kamu nggak mau beliin aku roti bakar! Ya udah kamu bakal tau akibatnya kalau kamu nolak permintaanku. Lihat ni! Ibu… Ibu… kesini dong bu, aku lagi butuh ibu ni?” (manja).
Ibu Tiri : “Ada apa Cindi anakku tercinta”?
Cindi : “Ini ni bu? Cinderella nggak mau beli’in aku roti bakar, padahal aku lagi pingin banget nih”?
Ibu Tiri : “Apa benar itu Cinderella”? (menyentak).
Cinderella : “Emm.., iya ibu” ?
Ibu Tiri : “Kamu itu ya, seharusnya kamu itu saling tolong menolong sesama saudara, jangan kayak gitu dong? Itu namanya anak yang egois, tau nggak. Ya udah sekarang kamu pergi kebelakang sana! Masih banyak pekerjaan yang belum kamu selesaikan”. (marah).
Cinderella : “Baik ibu”. (Pergi meninggalkan Cindi dan Ibu tirinya).
Cindi : “Loh, kok disuruh pergi kebelakang sih bu? Bukannya disuruh beli roti, aku kan…”? (kecewa).

Perbincangan Cindi terputus karena ada seorang prajurit istana yang datang kerumah mereka sambil membawa sebuah kertas.

Prajurit : “Tok… tok… tok…, permisi”?
Ibu Tiri : “Siapa ya…? (penasaran) iya sebentar”, (berteriak memanggil Cinderella) “Cinderella… Cinderella…. Ada tamu, buka pintunya!”
Cinderella : “Iya ibu (berjalan menghampiri ibunya) ada apa”?
Cindi : “Kamu nggak dengar apa ibu tadi bilang apa? Ada tamu, buka pintuya begok…”?
Cinderella : “Oh iya-iya”! (pergi menuju pintu dan membukanya).
Pengawal : “Permisi, bolehkan saya masuk”?
Cinderella : “Oh ya silahkan. Sebentar saya panggilkan ibu saya dulu”.
Cinderella : “Bu,? Ada prajurit istana datang kemari, mungkin ada perlu dengan ibu”!
Ibu Tiri : “Benarkah itu”? (kaget dan langsung menuju ke prajurit istana bersama Cindi dan Cinderela).
Ibu Tiri : “Apakah tuan ingin bertemu dengan saya”?
Prajurit Istana : “Oh, benar. Apakah anda ibu dari dua anak gadis ini”? (sambil menunjuk Cindi dan Cinderela).
Ibu Tiri : “Benar”!
Prajurit : “Kalau begitu saya tidak akan mendapat halangan untuk menyampaikan berita ini. Tentu anda tau kalau didalam istana ada seorang Pangeran yang menanti kedatangan bidadarinya bukan? Dalam hal ini keluarga kerajaan akan mengadakan pesta dansa untuk mencari seorang gadis yang akan dinikahi oleh Pangeran. Maka dari itu anda sekeluarga diundang dalam hal ini”.
Cindi : “Banarkah itu? Jadi kami sekeluarga diundang”!
Prajurit : “Iya Begitulah.”
Cindi : “Kapan pesta akan dilaksanakan”?
Prajurit : “Nanti malam, ya saya rasa kedangan saya dan pengumuman dari saya cukup sekian dan terimakasih”. (pergi meninggalkan rumah Cinderela).
Cindi : “Ibu ini kesempatan bagus untukku, untuk mendapatkan seorang pangeran yang aku impikan. Benarkan ibu”? (dengan riang)
Ibu Tiri : “Iya anakku yang tercinta”!

Lalu mereka meninggalkan Cinderella sendirian untuk siap-siap pergi ke pesta dansa nanti malam.

Cinderella : “Apakah aku boleh ikut ke pesta dansa ya”? (bimbang)

Tak lama kemudian ibu tiri kembali dan menegur Cinderella.

Ibu Tiri : “Heh, Cinderella! Mengapa kamu masih ada di sini. Kamu tau kan ini sudah jam berapa? Pesta dansa akan dimulai tapi kamu masih ngelamun di sini gimana sih”!
Cinderella : “Emangnya Cinderella boleh ikut…”?
Ibu Tiri : “Ya iya lah. Kamu kan anakku juga, udah nggak usah bertele-tele lagi. Sekarang kamu cepat ganti baju sana! Siapa tau kamu yang akan jadi putri kerajaan. Udah cepat sana”.
Cinderella : “Iya baik ibu?” (dengan riang).
Cindi : “Ibu emangnya Cinderella juga diajak?”
Ibu Tiri : “Iya”.
Ibu Tiri : “Kamu sudah siap”?
Cindi : “Udah bu” !
Ibu Tiri : “Kita tunggu Cinderella sebentar, Cinderella… Cinderella… ayo cepetan nanti telat lagi”!
Cinderella : “Iya ibu Cinderella sudah siap kok”!
Ibu Tiri : “Ya udah kita berangkat sekarang”.

Mereka berangkat menuju istana. Dan suasana di Instana sudah ramai. Pangeran Alexpun menunggu bidadarinya datang. Tak lama kemudian keluarga Cinderella datang.

Cindi : “Wah, ganteng banget Pangeran Alex malam ini.” (kagum melihat Pangean Alex yang jarang keluar).
Ibut Tiri : “Udah ngak usah kampungan kayak gitu deh. Sekarang kita dekati Pangeran untuk memperkanalkan diri”. (menuju Pangeran).
Ibu Tiri : “Ehem, permisi Pangeran, bolehkah saya memperkenalkan diri”?
Pangeran : “Iya silahkan”.
Ibu Tiri : “Sebentar Pangeran (memanggil ke 2 putrinya) Cindi, Cinderella. Kemari sayang”.
Cindi, Cinderella : “Iya, ibu” (menuju ibu mereka).
Ibu Tiri : “Inilah kedua putri saya Pangeran. Yang ini bernama Cindi (sambil menunjuk Cindi) dan yang ini bernama Cinderella (Sambil menunjuk Cinderella) Bagaimana? Cantikkan Pangeran”?
Pangeran : “Iya, mereka sangat cantik dan mengagumkan”.
Pangeran : “Emm? Permisi saya mau kebelakang sebentar”. (pergi meninggalkan mereka bertiga).
Cindi : “Oh iya silahkah Pangeran”.

Pangeran meninggalkan mereka bertiga.

Cindi : “Oh betapa gagahnya Pangeranku, Iyakan Cinderella”?
Cinderella : “Iya, dia memang gagah dan tampan”.
Cindi : “Eh.. eh, eh iya Pangeran sudah datang, bagaimana penampilanku masih cantikkan”? (Sambil berlenggak-lenggok di depan Cinderella dan Ibunya).
Cinderella : “Iya, Cindi kamu masih cantik kok, layaknya bidadari yang turun dari kayangan”.
Cindi : “Makasih…”
Pengawal : “Mohon perhatian sebentar. Pangeran ingin menyampaikan beberapa kata yang mungkin inilah puncak pemilihan jantung hati pangeran. Silahkan pangeran”.
Cindi : “Wah, ini saatnya yang aku tunggu”.
Pangeran : “Malam ini, hari ini saya akan memilih seorang gadis yang akan aku jadikan permaisuriku. Tapi sebelumnya aku ingin menyampaikan satu hal pada rakyat kerajaan, bahwa setelah pernikahanku nanti, kekuasaan tahta akan sepenuhnya diserahkan kepadaku. Maka dari itulah saya mohon kerejasamanya. Dan malam ini saya baru berkenalan dengan seorang gadis yang sangat cantik, anggun dan sangat manis, dia datang kesini bertiga. Dialah Cinderella”. (Sambil menunjuk Cinderella).
Cinderella : “Benarkah itu Pangeran”?
Pangeran : “Benar Cinderella, aku memilihmu sebagai bidadariku selamanya”.
Pangeran : “Apakah kamu maumenjadi permaisuriku” ?
Cinderella : “Dengan senang hati akau terima tawaran Pangeran”.

BABAK III

Akhirnya mereka berdua menjadi pasangan yang bahagia dan penuh kasih sayang, tapi Cindi tidak bisa menerima ini semua.

Cindi : “Bukan ini yang aku mau, aku tak akan rela jika pangeranku diambil oleh si Cerobong asap. Aku harus melakukan sesuatu untuk kembali merebut Pangeranku. (Cndi mencari sesuatu yang mungkin bisa ia gunakan untuk membuhun Cinderella).
Cindi : (menatap sebuah meja, yang terletak sebuah keranjang buah dan sebuah pisau, lalu Cindi pun mengambilnya) Cinderella aku tidak terima ini semua, rasakan ini”.

Lalu Cindi pun dengan seketika menusukkan pisau tadi ke tubuh Cinderella.

Ibu Tiri : “Cindi apa yang kau lakukan pada Cinderella? Kamu sudah gila”!
Cinderella : (Seketika jatuh dan berekata) apa salahku Cindi, mengapa kau lakukan ini semua padaku? Apa salahku Cindi? Apa?” (sambil mengeram kesakitan).
Pangeran : “Pengawal tangkap dia!”, singkirkan dia dari istana ini. Jauhkan dia dari sini cepat..!”. (emosi).
Pengawal : “Baik pangeran saya akan segera singkirkan wanita ini dari sini”. (Sambil memegang Cindi dan menyeretnya keluar).
Cindi : “Lepaskan aku, aku hanya ingin Pangeran menjadi suamiku, lepaskan….!” (emosi, marah).

Setelah berkata demikian Cindi langsung dibawa keluar oleh pengawal istana.

Ibu Tiri : “Cinderella? Kamu masih bisa bertahan nak”? (Kasihan melihat anak tirinya yang selama ini disiksa dan melihatnya akan segera menemui ajal).
Pangean : “Cinderella, bicaralah sayang. Bicaralah”.
Cinderella : (Berusaha menanggapi dan berbicara mungkin untuk terakhir kalinya) “Ibu? Maafkan aku atas semua perlakuan yang mungkin membuat ibu marah dan pangeran maafkan aku, aku tak bisa menjadi permaisuri pangeran. Maafkan aku. Selamat tinggal…”.
Pangeran : “Cinderella… Cinderella… jangan pergi dari ku…!” (menangis)
Ibu Tiri : “Cinderella…!”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: