PTK MAKALAH TESIS

Just another WordPress.com weblog

  • penanggalan

    Juni 2009
    S S R K J S M
         
    1234567
    891011121314
    15161718192021
    22232425262728
    2930  
  • PTK

    Banyak Guru Yang bingung engan PTK, dua tahun kemarin tiak begini.. ternyata syarat fortopolio sertifikasi menjadikan mereka ingin membuat ptk, tapi jika gak bisa??? pasti ada solusi. Blog's ini SLUSINYA
  • rekor TOP

    • Tidak ada
  • KATA KAMU

    Mr WordPress on Hello world!

MAKALAH : KURIKULUM KTSP

Posted by ptkmakalah pada Juni 19, 2009

KATA PENGANTAR

Bismillahirrohmanirrohim

Segala puji penulis panjatkan kehadirat Allah swt. Tuhan yang maha pengasih dan penyayang. Dialah Tuhan yang maha tinggi lagi maha terpuji tempat bermohon dan berserah diri. Selawat dan salam tetap terlimpah kepada nabi Muhammad saw, penghujung para nabi dan para keluarganya.
Secara tehnis penulis mempunyai banyak kekurangan dalam menyusun makalah, oleh Karena itu dalam penyusunan makalah ini telah melihbatkan banyak pihak. Berkaitan dengan hal itu, ucapan terimakasih kepada:
1.Bapak Arif Setiawan, S.Pd selaku Dosen “Belajar dan Pembelajaran Matematika”
2.Teman-teman dan semua pihak yang telah membantu menyelesaikan makalah ini.
3.Mengingat keterbatasn penulis dalam menyusunan makalah, tidak menutup kemungkinan jika di dalamnya banyak terdapat kesalahan di luar pengetahuan. Oleh karena itu kritik dan saran yang kontruktif sangat penulis harapkan untuk kesempurnaan makalah ini.
4.Terakhir, semoga makalah ini ada manfaatnya bagi khazanah bidang pendidikan, Amin..

Madiun, Januari 2008

Penulis

BAB I
PENDAHULUAN

Ada adigum yang tak mempesona tetapi terlajur melekat pada dunia pendidikan kita; Ganti Menteri Ganti Kurikulum. Sehingga setiap kali terdapat pergantian kuriulum atau setidaknya perubahan kurikulum, masyarakat selalu menanggapi dengan nada minor. Begitupun ketika mereka mendengar akan diberlakuakan kurikulum 2006 pada tahun pelajran baru 2006/2007. Mereka mereka masih menyambutnya dengan nada relative sama.
Alasan yang peling mendasar, selama ini telah tujuh kali terjadi pergantian kurilkulum. Sayangnya hal itu tidak terlalu memiliki dampak peningkatan kualitas siswa didik dan dunia pendidikan itu sendiri. Alasan lainnya, bahwa dengan kurikuum baru tentu saja akan berganti buku baru pula. Dan itu berarti secara otomatis orang tua harus mengeluarkan uang buat pembelian buku tersebut. Apalagi kurikulum 2004 atau yang lazim Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK), telah diujicobakan sejak tahun 2001. Dan kurikulum tersebut hingga kini masih belum secara resmi diberlakukan, tetpai justru kini akan digantikan dengan kurikukum 2006.
Padahal selama ini, bayak sekali sekolahdan madrasah yang masih melaksanakan Kurikulum 2004 terebut diatas kertas saja. Konkritnya, secara tertulis mereka menggunakan Kurikuklum 2004 tetapi ternyata secara praktek lapangan mereka masih menggunakan methode pembelajaran kalsik atau tradisional. Bahkan pemahanan bahwa buku ajar bukanlah satu-satunya sumber pelajaran, masih belum bisa mereka aplikasiakan secara baik. Tak sedikit guru yang belum mampu menjadi motivator pendidikan, yang dapat merangasng peserta didik untuk mencari dan menganalisa informasi dari berbagai sumber-sehingga proses pembelajaran berlangsung aktif.
Hal ini yang menyebabkan sulitnya pelaksanaan Kurkulum Bernasis Kompetensi, adalah masih banyak guru yang menempatkan sebagai “Pekerja Kurikulum”. Mereka terbiasa dengan mengikuti apa yang sudah digariskan pemerintah dalam kurikulum. Padahal dalam KBK, guru sangat diharapkan agar lebih berperan senagai pengembang kurikulum. Fenomena secara ilmiah inilah yang membuat banyak pihak menjadi serba bertanya-tanya; Klaau kurikulum 2004 sejak pelaksanaannya masih terbata-bata semacam ini, kenapa justru akan digantikan denan kurukulum yang baru?
Makalah ini mencoba untuk sedikit menggunakan kesalahpamahan tersebut. Kesalahpahaman mendasarnya terletak pada angapan, bahwa kurikukum 2006 adalah sebagai pengganti kurikulum 20044. Padahal sesungguhnya, yang terjadi bukanlah demikian. Anggapan tersebut meleset dari yang dikirakan.
Yang perlu dipahami bahawa kurikulum 2006 tersebut bukanlah pengganti kurikukum 2004, melainkan merupakan tindak lanjut dari tugas BSNP (Badan Standar Nasional Pendidikan) dalam menyusun standart isi pendidikan
Dengan kata lain, Kurikulum 2006 tersebut hanyalah sebagai standarisasi saja, agar sekolah dan madrash memiliki acuan secara lebih jelas.
Adanya kurikulum 2006 merupakan langkah lanjut atau hasil kajian tentang kelemahan-kelemahan yang ada di KBK. Teori KBK yang terkesan muluk-muluk harusnya lebih dibumikan, sesuai kondsi di lapangan. Jika tidak demikian tentu dunia pendidikan hanya akan berhenti pada tataran konsep semata. Maka rumusan-rumusan yang dituangkan dalam Kurikulum 2006, benar-benar merupakan jawaban atas kebutuhan pendidikan yang ada.

BAB II
PEMBAHASAN

A.Pembelajaran dan Pengembangan Kurikulum
1.Pengertian Kurikulum
Dalam UU RI Nomer 02 Tahun 1989 pasal (9) menyebutkan bahwa “Kurikulum adalah seperangkat rencana dan peraturan mengenai isi dan bahan serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan belajar mengajar”. Sedangkan pada pasal 37 menyebutkan: “Kurikuum ditujukan untuk mewujudkan tujuan pendidikan Nasional dengan memperhatikan tahap perkembangan peserta didik dan kesesuaiannya dengan lingkungan, kebutuhan pembangunan nasional, perkelmabgnan ilmu pengetahan dan tehnoogi, serta kesenian, sesuai dengan jenis jenjang masing-masing satuan pendidikan”.

2.Landasan Pengembangan Kurikulum
Kurikulum merupakan wahana belajar mengajar dinamis sehinga perlu dinilai dan dikembangkan secara terus menerus dan berkelanjutan sesuai dengan perkembangan yang ada di dalam masyarakat. Perkembangan kurikulum adalah suatu proses yang menentukan bagaimana pembuatan kurikulum akan berjalan.
Pengembangan kurikulum adalah perbuatan yang kompleks yang mencakup berbagai jenis keputusan. Beberapa landasan yang digunakan dalam pengembangan kurikulum antara lain:
a.Landasan Filosofis
Pendidikan adalah ada dan berada dalam kehidupan masyarakat sehingga apa yang dikenendaki masyarakat untuk dilestarikan, diselengarakan melalui pendidikan dalam arti seluas-luasnya. Dengan demikian pangangan dan wawasan apa yang ada dalam masyarakat merupakan pandangan dan wawasan dalam pendidikan. Inilah yang dimaksaud dengan landasan filosofis penyelenggaaraan pendidikan.

b.Landasan Sosial-Budaya-Agama
Nilai sosial budaya agama masyarakat bersumber pada hasil karya budi manusia, sehinga menerima, menyebarluaskan, melestariakan dan atau melepaskan manusia menggunakan akalnya. Untuk penerima, penyebarluaskan, pelestariakan atau penolakan dan pelepasan nlilai-nialai sosial budaya agama maka masyarakat memanfaatkan pendidikan yang dirancang melalui kurikulum.

3.Landasan Ilmu Pengetahuan
Ilmu pengetahuan dan tehnologi adalah nialai-nilai yang bersumber pada perilaku / logika, sedangkan seni bersumber pada perasan / estetika. Pendidikan merupakan upaya penyiapan menghadapi perubaahan kurikulum harus berlandasakan ilmu pengetahuan. Selain itu perkembangan tersebut juga dimanfaatkan untuk memecahkan masalah pendidikan.

4.Landasan Kebutuahn Masarakat
Adanya falsafah hidup, perubahan social budaya agama perubahan ipteks dalam suatu masyarakat akan merubah pola kebutuhan mayarakat. Kebutuhan masyarakat dipengaruhi oleh kondisi masyarakat itu sendiri. Adanya perbedaan disebabkan oleh kualitas individu-individu yang menjadi anggota masyarakat tersebut. Jadi, jelaslah kebutuhan masyarakat yang dilayani melalui kurikulum yang dikembangkan.

5.Landasan Perekembangan Masyarakat
Salah satu cirri masyarakat adalah berkembang. Perkembangan masyarakat ditentukan oleh falsafah hidup yang mengarah pada perkembangan masyarakat, nilai sosial budaya agama akan menjadi penyaring nilai-nilai yang lain yang menghambat perkembangn masyarakat. Perkembangan masyarakat akan menuntut tersedianya proses pendidikan yang sesuai. Untuk menciptakan proses pendidikan yang sesuai dengan perekembangan masyarakat maka diperlukan rancangan berupa kurikulum yang landasan pengembangannya berupa perkembangan masyarakat itu sendiri.
Peningkatan mutu pendidikan tampaknya masih merupakan isu sentral beberapa tahun kedepan. Ibarat perejalanan seorang musafir yang terus berjalan tiada akhir. Kalau pengembara itu terus berlangsung biarlah, namun salah astu yang harus kita pikirkan adalah, bagaimana menjadikan sebagai pengalaman yang berharhga untuk mendapat ide-ide baru dalam praktek penyelenggaraan pendidikan. Pemerintah dalam hal ini DEPDIKNAS, memang harus berupa melakukan perbaikan terhadap mutu pendiidkan. Ini terlihat dari banyaknya program-program perbaikan yang telah di gulirkan. Paling tidak pada tahun-tahun terakhir ini ada dua peruabhan yang dilakukan, yaitu penerapan sistem Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) 2004, dan kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan.
Untuk itu pada baga selanjutnya kami akan mengiulas pengertian KBK, KTSP serta implementasinya.

B.Kompetensi, KBK dan Implementasi KBK
1.KOMPETENSI
a.Pengertian Kompetensi
1.Kompetensi
Kompetensi meruapkan ketrampilan dan nilai-nilai dasar yang direflesikan dalam kebiasan berfikir dan bertindak seacara konsisten dan terus menerus memungkinkan seseorang menajdi kompeten untuk melakukan sesuatu. Kompetensi adalah kemampuan yang di miliki seseorang (pengetahuan, pengetahuan dan nilai sikap) untuk melakukan suatu pekerjaan yang tidak dapat dilakuakn oleh orang lain yang tidak memiliki kemampuan terebut.

b.Pengelompokan Kompetensi
Pada kurikulum 2004, pengetahuan dipandang sebagai konstruksi dari yang mengetahui. Sehingga jika siswa ingin mengetahui sesuatu dia harus aktif mengkonstruksikan pengetahuan itu dengan bantuan guru. Setiap siswa dapat mengkonstruksikan pengetahuannya. Maka yang di pentingkan adalah kompetensi siswa. Yang dalam kurikulum 2004 menuntut marpaung, dikelompokkan dalam 2 kategori:
1.Kopetensi Proses, meliputi
Menyelesaiakn masalah
Bernalar
Berkomunikasi
Keterkaitan
Menghargai kegunaan (matematika)

2.Kompetensi Isi (dalam matematika), meliputi aspek:
Bilangan
Pengukuran
Geometri
Aljabar
Statistic dan prabalitas
Trigonometri
Kalkulus

c.Konsep Kompetensi
Konsep Kompetensi dalam kurikm meliputi 4 aspek, yaitu:
Kompetensi berekenaan dengan kompetensi siswa melakukan sesuatu dalam berbagai konteks.
Komptensi menjelaskan pengalaman pengalaman belajar yang dilalui siswa untuk menjadi kompeten.
Kompetensi merupakaan hasil belajar, mengenai hala-hal yang dapat dilakuakan siswa melalui proses belajar.
Kehandalamn kemampuan siswa melakukan sesuatu didefinisikan secara jelas terstandart yang harus diukur.

2.KBK
a.Pengertian KBK
Pusat Kurikulum Badan Penelitian dan Pengembangan Diknas (2002), mendefinisikan KBK merupakan seperangkat rencana dan pengaturan tentang kompetensi dan hasil belajar dan pemberdayaan sumber daya pendidikan dalam pengembangan kurikulum sekolah KBK adalah kurikulum yang dikembangakan berdasarkan kompetensi (keahlian) tertentu, yang dimungkinkan esensial untuk dimiliki siswa untuk melakukan suatu kegiatan (pekerjaan, jabatan atau karier) tertentu. Dengan demikian pengembangan kurikulum menyangkut berbagai aspek, mulai sekedar daftar mata pelajaran secara utuh dan evaluasi untuk mengetahui bahwa tujuannya dapat di capai.
Jadi suatu kompetensi adalah suatu pernyataan tentang apa yang sepantasnya dapat dilakukan siswa secara terus menerus (tetap) dalam suatu kajian atau mata pelajaran pada suatu tinkat tertentu. Dengan demikian KBK merupakan satu pergeseran dan penekanan dari isi (Apa yang tertuang) ke kompetensi (BAGAIMANA harus berfikir, belajar, dan melakukan) dalam kurikulum. Oleh karena itu guru dan siswa digarapkan dapat mengetahui apa yang harus DICAPAI da seharusnya EFEKTIVITAS belajar yang telah DICAPAI.

b.Karakterstik?Ciri-ciri KBK
a.Meletakkan pada ketecapainya kompetensi siswa baik secara individu maupun klasikal.
b.Berorientasi pada hasil belajar dan adanya keberagaman.
c.Penyampaian dalam pembelajaran menggunakan pendekatan dan methode yang bervasiasi
d.Penilaaian menekankan pada proses dan hasil belajar dalam upaya penguasaan atau pencapaian suatu kompetensi.

c.Landasan dan Prinsip Pengembangan KBK
Sesuai dalam jiwa otonomi dalam pendidikan Seperti peraturan Pemerintah No.25 tahun 2000, bidang pendidikan dan kebudayaan, Pemerintahmemeiliki wewenang menetabkan (1) Standart Kompetensi Siswa dan warga belajar serta pengaturan kurikulum nasional dan penilaian hasil belajar secara nasional serta pedoman pelakasanaananya, dan (2) Standart Materi Pembelajaran Pokok. Pelakasanaan PP Nomer 25 tahun 2000 memberi peran Pada daerah dan sekolah dalam peningkatan mutu pendidikan secara berkelanjutan dan terarah sereta menyeluruh . Penerapan disentralisasi pendidikan dalam bidang kurikukum menggunakan konsep”Kesatuan dalam kebijakan dan keberagaman dalam pelaksanaan”
Prinsip-prinsip Kegiatan Belajar Mengajar yang dikembangkan menurut KBK antara lain:
1.Berpusat pada siswa
2.Belajar dengna melakukan
3.Mengemabngakankemampuan social
4.Mengembangkan keingin tahuan,m imajinasi, dan fitrah ber-Tuhan
5.Mengembangkan kerampilan pemecahan masalah.
6.Mengembangkan kreatifitas siswa
7.Mengembangan kemampuan menggunakana ilmu da tehnologi
8.menumbuhkan kesadaran sebagai warga Negara yang baik.
9.belajar sepanjang hayat.

3.Implementasi KBK dalam Proses Pembelajaran
Misi KBK akan tercapai jiwa proses pembelajaran tidak menggunakana pendekatan yang selama ini digunakan yaitu pendekatan yang berpusat pada guru: Guru aktif mengajar (mentrasfer pegnetahuan) siswa, sedangkan siswa menerima secara pasif. Misi akan tercapai jika ada perubaahan dalam prsktik pembelajaran. KBK hanyalah salah satu komponen dalam pembelajaran dan bukan komponen terpenting. Koponen yang lebih penting adalah guru (Karakteristiknya, kompetensinya, dan unjuk kerjanya) yang bertanggung jawab tentang jalannya proses pembelajaran, dan unjuk kerjanya) yang bertanggungjawab tentang jalannya proses pembelajaran. Untuk itu sebelum melaksanakan proses pembelajaran haruslah dipersiapkan dulu beberapa perangkat pembelajaran. Diantaranya: Skenario pembelajaran dan SKBM.
a.Skenario pembelajaran:
Pada hakekatnya merupakan perencanaan untuk memproyeksikan atau mengambarkan tentang apa yang akan dilakukan agar indikator hasil belajar dapat tercapai.
Pengembangan Skenario Pembelajaran, mempunyai syarat-syarat sebagai berikut:
Kompetensi/ indicator harus jelas
Sederhana, fleksibel dan dapat di implementasikan
Kegiatan yang disusun dan dikembangkan harus menunjang dan sesuai dengan kompetensi.
Utuh, menyeluruh, dan jelas pencapaiannya.
Ada koordinasi antar komponen.

b.SKB (Standart Ketuntasan belajar Minimum)
Adalah tingkat pencapaian standart kompetensi dan komptensi dasar mata pelajaran oleh siswa per mata pelajaran.
Untuk memudahkan dalam proses pencapaian SKBM, maka nilai ketuntasan belajar siswa dinyatakan dalam bentuk bilangan bulat, dengan rentang 0-100, dimana nilai ketuntasan belajar maksimum adalah 100.
Sekolah dapat menetapkan ketuntasan belajar minimum di bawah nilai ketuntasan belajar maksimum (100). Namun sekolah harus merencanakan target dalam waktu tertentu untuk mencapai nilai ketuntasan belajar maksimum.
SKBM ditetapkan oleh guru harus diasumsikan dicapai secara bertahap oleh seluruh siswa pada kelas yang terkait ( termasuk siswa yang memiliki kemampuan rendah) untuk itu, sekolah perlu membuat nilai terendah untuk setiap siswa yang memiliki kemampuan rendah.
Penetapan ketuntasan belajar sekolah yang bersangkutan. Forum guru yang berada di lingkungan sekoalah yang berksangkutan. Akan lebih baik bila melibatkan guru dari sekolah lain yang terdekat (yang telah melaksanakan kurkulum 2004) atau forum uru MGMP kabupaten / Kota setempat.
Berbagai alternative pembelajaran di uji cobakan di sekolah. Berbagai pelatiahn diadakan demi kesuksesan pembelajaran. Ketika suatu methode gagal, methode lain dimunculkan sebagai bentuk alternative penyelesaian. Dengan penggantian kurikulum dari tahun, ketahun menuntut pula renovasi methode yang harus di praktekkan dalam lingkungna akademis.
Berbicara masalah pembelajaran , memang tidak dapat lepas dari guru sebagai pendidik dan siwa sebagai si terdidik. Keberhasilan pembelajaran dalam lingkungan kecil ini terlihat sekali ditentukan guru dan siswa. Namun tak jarang diantara para guru mengalami kegagalan menarik minat siswa untuk mengikuti pemelajaran mereka. Faktor kegagalan ini sebenarnya berasal dari guru itu sediri. Mengapa demikian.
Seorang guru harusnya mengetahui sedikit aspek psikologi anak maupun remaja. Bila awal pertemuan sudah bisa menanamkan rasa senang pada guru selanjutnya siwa akan menyenangi pula yang diajarkan oleh guru tersebut. Ini bukan sekedar teori. Seoran ganak atau siwa yang menyenangi pelajaran bahasa Arab abila gurunya menyenangkan. Seoran gsiswa akan menyenangi pelajaran apa saja, jika gurunya menyenangkan, Nah, bagaimana uapaya guru untuk menyenagkan para siswa?

Maka upaya-upaya dalam proses pembelajaran sesuai dengna KBK sebagai berikut:
1.PAKEM
Untuk lebih kelasnya dibawah ini akan kami uraiakan konsep penerapannya:
a.Pembelajaran aktif
Pembelajan aktif merpakan penedekatan pembelajaran yang lebih banyak melibatkan aktivitas peserta didik dalam menyukseskan berbagai informasi dan pengetahuan untuk dibahas di kaji dalam proses pembelajaran dikelas sehingga mereka mendapatkan berbagai pengalaman yang dapat meningkatkan pemahaman dan kompetensinya. Lebih dari itu pembelajaran aktif memungkinkan peserta didik mengembangkan kemampuan berfikir tingkat tinggi serta memiliki persamaan dengan model pembelajaran sel discovery learning, yakni pembelajaran yang dilakukan oleh peserta didik untuk menemukan kesimpulan sendiri, sehingga dapat di jadikan sebagai nilai baru yang dapat diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari. Dalam model pembelajaran aktif, guru lebih memposisikan dirinya sebagai fasilitator (To Fasilitate of Learning) kepada peserta didik. Sebaliknya peserta didik lebih terlibat secara aktif dan banyak berperan dalam proses pembelajaran.

b.Pembelajaran Kreayif (PK)
Pembelajran kreatif merupakan proses pembelajaran yang mengharuskan guru untuk mendapatkan motivasi dan memunculkan kreatifitas peserta didik selama pembelajaran dengan menggunakan methode yang bervariasi seperti kelompok bermain, bermain peran dan pemecahan masalah. PK menuntuk guru untuk meragsang kreatifitas peserta didik baik dalam mengembangkan kecakapan berfikir maupun dalam melakukan suatu tindakan..
Siswa diaktakan kreatif apablia mampu melakukan sesuatu yang menghasilkan sebuah kegiatan baru yang diperoleh dari hasil berfikir kreatif dan mewujudkannya dalam bentuk sebuah hasil karya baru.

c.Pembelaajran Efektif
Pembelajaran dapart diaktakan efektif jika mampu meberikan pengalaman baru dan membentuk kompetensi peserta didik, serta mengantarkan mereika ke tujuan yang ingin di capai secara optimal. Hal ini dapat dicapai dengan melibatkan peserta didik dalam perecanaan, pelaksanaan dan penelitian.
Pembelajaran peserta didik hrus melibatkan secara penuh agar bergairah dalam pembelajaaran, sehinga suasana pembelajaran betul-betul kondusif dan terarah pada tujuan dan pembentukan kompetensi peserta didik.

d.Pembelajaran Menyenangkan
Pembelajaran menyenangkan (joyfull instruction) merupakan suatu proses pembelajaran yang di dalamnya terdapat sebuah kohesi yang kuat oleh peserta didik tanapa ada perasaan terpaksa atau tekanan (Not Under Pressure). Dengan kata lain pembelajaran menyenangkan adalah adanya pola hubungan yang baik antara guru dengan peserta didik dalam proses pembelajaran. Guru memposisikan diri sebagai mitra belajara peserta didik dalam proses pembelajaran. Guru memosisikan diri sebagai mitra peserta didik, bahkan dalam hal tertentu tidak menutup kemungkainan guru belajar dari peserta didik untuk mewujudkan pembaelajaran yang menyenangkan. Guru harus mampu merancang pembelajaran dengan baik, memiliki materi yang tepat, serta memiliki dan mengembangakan strategi yang dapat melibatkan peserta secara optimal.

2.TEMATIK
Pengertian tematik
Pembaelajaran tematik menurut Mamat SB dkk (2005), adalah pembelajaran terpadi pola pembelajaran, yang mengintegrasikan pengetahuan ketrampilan, kreatifitas, nilai dan sikap pembelajaran dengan menggunakan tema pemebelajaran bahkan lintas mata pelajaran yang diikat dengan tema-tema tertentu. Keterpaduan dalam pembelajaran ini dapat dilihat dan aspek prses dan waktu, aspek kurikulum, dan aspek belajar mengejar. Diterapkannya pendekatan tematik dalam pembelajaran, membuka ruang yang luas bagi peserta didik untuk mengalami sebuah pengalaman belajar yang lebih bermakna, berkesan dan menyenangkan.
Demikian pula bagi guru pendekatan tematik ini memberikan peluang agar guru mengemabngkaan berbagai strategi dan methodelogi yang tepat. Pemilihan dan pengembangan strategi pembelajaran dan mempertimbangkan kesesuaian dengan tema-teman yang dipilih sebelumnya. Disinilah guru dituntut lebih kreatif dan membuat suasana pembelajaran agar peserta didik mampu memahami kenyatana hidup yang dijalani setiap hari, baik yang menyangkut dirinya sebagai sebagai pribadi maupun sebagai anggota keluarga, masyarakat, lingkungan dan alam sekitarnya.
Pendekatan tematik juga mengarahkan perubahan kultur pembelajaran menuju pada keterbukaan. Guru menjadi terbuka untuk menerapkan metode pembelajara yang variatif selain juga bersedia mepelajari hal baru. Selain itu peserta didik terbuka untuk menggali potensi dan kreativitasnya dengan multi kecerdaan (Multi Intelegence). Pendekatan tematik memiliki cirri khas berpusat pada peserta didik (Student Centered) peserta didik di dorong untuk menemukan, melakukan dan mengalami secara konstekstual dengan mengembangkan seluruh sumber daya yang dimiliki dan lingkungna sekitar. Pembelajaran menjadi lebih bermakna karena peserta didik secara langsung melakukan (doing) dan mengalami (experienced) sendiri suatu aktifitas pembelajaran . Guru hanya memberikan ruang yang kondusif dan memfasilitasi terwujudnya pengalaman-epengalaman yang bermakana bagi peserta didik. Dengan demikian peserta didik menjadi menjadi subyek bukan obyek dalam mengemukakan pendapat dan ketrampilan memecahkan masalah sehingga peserta didik berpeluang dan termotovasi menumbuhkan potensi dirinya sendiri secara beragam.
Pembelajaran tematik merupakan pendekatan pembelajaran yang disesuaikan dengan perkembangan dan kecenderungan anak usia dini. Dalam tinjaun psikologi anak tumbuh dan berkembangan secara holistic dan menyeluruh. Perkembangan aspek kognitif seorang anak berkaitan erat dengan perkembangan berbagai kecerdasan anak IQ, EQ dan SQ-nya. Lebih dari semua itu, pembelajaran tematik juga memunungkinkan untuk diterapkan secara penuh pada jenjang pendidikan dasar (SD/MI dan SMP/MTs), tertunya dengna mempertimbangkan kebutuhan minat dan kemampuan peserta didik. Penanganan kesulitan belajar peserta didik juga disesuaiakan dengan tingkat pertumbuhan dan perkembangan mereka, baik dari aspek intelektual maupun mental.

Penerapan Pembelajaran Tematik dalam KBK
Salah satu bagian dari konsep keragaman yang dapat di implementasikan di Madrasah/Sekolah, khusunya terkait dengan pelaksanaan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) adalah pembelajran tematik. Perlu diketahui bahawa dalam KBK, khusunya yang berkaitan dengan kegiatan belajara mengajar. Ditegaskan bahwa kompetensi yang telah disiapkan secara nasional menjadi acuan Madrasah/Sekolah untuk diekmabngakan sesuai dengna kondisi lingkungan masing-masing artinya KBK mempunyai tingkat fleksibilitas yang sangat tinggi, namun demikian kompetensi menjadi dasar tetap harus di capai. Oleh Karena itu kreatifitas sangat guru sangat di perlukan sehubungan dengan itu dalam merencanakan kegiatan belajar, maka ada beberapa langakah yang perlu di perhatikan yaitu (1) meghitung beberapa waktu yang tersedia dan dibutuhkan untuk tiap kompetensi. Dasarnya adalah jumlah kompetensi dan indikator, kedalaman materi serta jumlah tatap muka, (2) menempatkan materi secara unit dan logis berkaitan dengna kompetensi yang akan dicapai. Beberapa hal yang perlu diperhatikan; a) ketercapain kompetensi lainnya. b) bumber belajra relevan. c) pertimbangan strategi belajra yng digunakan. 3) menyusun rencana pembelajaran. Hal-hal yang perlu dipersiapkan dalam penyusunan rencana pembelajran harus sesuai dengna silabus yang di susun. Dalam kaitan ini harus diingat dan dipahai bahwa silabus hanya memuat apa-apa yang dilakukan oleh peserta didik untuk menuntaskan kompetensi yang telah utuh artinya silabus berpeluang merangkaikan kompetensi menjadi satu sehinga perkiraan waktu lebih panjang dan masih sulit ditentukan bebrapa kali rencana peretemuan. Hanya saj adalam silabus sudah diisyaratkan materi apa yang secara minimal harus dikuasai oleh keserta didik untuk ketercapaian kompetensi. Sedangkan rencana pengajaran merupakan penggalan-penggalan silabus yang dilakukan setiap kali tatap muka. Perbedaannya adalah setia rencana lebih detal dan komponen pembelajran yang dibutuhkan telah terurakan. Artinya tindakan nyata guru mulai dari awal pembelajran sampai tuntas sudah tergambarkan dengan knkret.
Utuk itu guru MI/SD atau MTS/SMP jika mengajar dengan basis tematik mereka perlu melakukan diskusi untuk memilih pengelompokan, mengaitkan dan menentukan tema yang menarik serta actual bagi peserta didik. Melakukan kerja sama antara guru dan lintas bidang study sebagai saran ayang efektif untuk mencerdasakan SDM guru guna meningkatkan kualitas pembelajran. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam proses penyusunan pembelajaran tematik adalah kesungguhan dalam perencanaan, kecermatan dalam memilih kompetensi sehingga tidak ada yang terlewati serta kepekaan dalam menentukan tema. Untuk itu lembar observasi atau lembar cek untuk mengontrol prencanaan pembelajran terpadi menjadi penting.
Hal mendasar yang penting diperhatikan oleh guru adalah proses pembelajaran yang akan dilakkan itu bertujuan untuk memperkaya pengalaman beljar peserta didik dan tujuan mendasr dari pembelajran tematik adalah efisiensi dalam hal penggunaan waktu, beban materi, methode, penggunaan sumber belajar yang nyata kepada peserta didik untuk mencapai kompetensi yang tepat dan efesien.
Untuk itu, pemahaman terhadap pengembangan silabus kompetensi dasr indicator materi pokok strategi belajar, sumber belajar urutan logis, menentukan tema dan menyusun rencana pembelajaran terpadu menjadi penting. Dukungan civitas akademi dan institusi madrasah dan perencanaan yang matang dalam penyusunan pembelajaran terpadu itu sangat menentukan.
Secara umum prosedur penerapan pembelajaran tematik mengkkuti tiga tahapan yaitu (1) Perencanaan. (2) Pelaksanaan. Dan (3) Penilaian (evaluasi).
Perencanaan. Pada tahan perencanaan seorang guru harus memilih dan mengembangkan tema secara tepat. Dalam proses pemilihan dan mmengembangkan tema secara tepa. Dalam proses pemilihan setidaknya ada dua faktor yang harus diperhatikan yaitu (1) Kesesuaian tema dengan perekmabngan usia peserta didik, minat, peristiwa-peristiwa yang paling tepat dengan kehidupan peserta didik bahkan konteks lingkungan masyarakat, social, budaya, tradisi.
Pelaksanaan, Setelah penyusunan tema selesai dilakukan selanjutnya tema-tema tersebut di jadikan sebagai materi pembelajaran lintas disiplin. Adapun dalam pelaksanaannya penerapan pelaksanaan pembelajran tematik dapat mengikuti langkah-langkah sebagai berikut:
Kegiatan pembukaan merupakan kegiatan untuk apersepsi yang sifatnya pemanasan. Kegiatan ini dilakukan untuk menggalai pemahaman peserta didik tetang tema yang akan disajikan. Diantaranya beberapa kegiatan yang menarik perhatian peserta didik becerita menyanyi atau kegiatan olah raga dan sebagainya.
Kegiatan inti dalam kegiatan tematik difokuskan pada kegiatan-kegiatan yang diarahkan untuk mengembangkan kemampuan membaca, menulis, berhitung bagi peserta didik. Dalam kegiatan ini pembelajaran menekankan pada pencapaian indikator yang ditetapkan. Untuk menghindari kejenuhan peserta didik pada kelas-kelas awal tingkat pendidikan dasar (SD/MI), pendekatan pembelajaran yang paling tepat digunakan adalah belajar sambil bermain atau pembelajaran yang menyenangkan (jouful learning). Kemudian sebagai kegiatan penutup dilakukan dengan mengungkap hasil pembelajaran yaitu dengan cara menanyakan kembali materi yang sudah disampaikan dalam kegiatan inti. Pada tahap penutup juga guru hrus bisa menyimpulkan hasil pembelajran dengna mengedepankan pesan-pesan moral yang terdapat pada setiap materi pemeblajaran.

EVALUASI
Tahap yang terakhir sesudah proses pembelajaran, adalah evaluasi (penilain). Penilaian adalah merupakan sesuatu tindakan atau suatu poses untuk menentukan nilai segala sesuatau. Penilaiaan atau evaluasi beda dengan pengukuran. Karena pengukuran lebih bersifat kuantitatif. Bahkan pengukuran merupakan instrument untuk melakukan penilaian. Atau dengan kata lain pengukuran menjawab “How much”, sedangkan penilaian menajawab pertanyaan “what value”.
Penilaian merupakan salah satu kegiatan yang harus dilakukan oleh sesorang guru dalam kegiatan dan pembelajaran. Dengan penialianan, guru akan mengetahuai perkemabngan proses dan hasil pbelajara, intelegensi, bakat khusus, minat hubungna sosial sikap dan kegiatan kepribadian peserta didik.
Aspek-aspek evaluasi hasil belajar harus saring di implementasikan agar mendorong perkembangan perkembangan penalaran antara lain:
1.Teks yang diberikan mencakup tes kognitif mauun psikomotor yang disesuaikan dengna tujuan pembelajaran.
2.Bentuk teks esay untuk tekt kognitif, bentuk tes obyektif yang digunakan dirancang dengan sangat ahti-hati dan bijaksana.
3.Evaluasi teks kognitif didasarkan pada acuan tingkat berfikir, termasuk ketrampilan berfikir.

c.KTSP, dan Implementasi KTSP
1.Hakekat Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan
Kurikulum yang disempurkanakan ini pada hakekatnya sama dengan kurikuum 2004, yang menerakan sistem KBK. Bedanya kalau kurikulum terdahulu guru tidak memnbuat indicator pembelajrana sendiri. Kurikulum tingkat satuan pendidikan ini justru memberikan keleluasaan guru untuk membuat indicator pembelajran sesuai dengan yang dibutuhkan siswanya. Guru punya peluang memberikan pembelajran yang lebih bermakna dengna memadukannyadengna sialbus. Pembelajrana bermakna ini diyakini mengarahkaan siswa agar mampu mengembangkan kemapuan logika atau matematis logis.
Menurut Conny Semi Awan (2002), strategi pembelejaran yang hanya berupaya menghabiskan materi kurang memberikan makna bagi siswa, oleh karena itu pendekatan dalam pengorganisasian komponen-komponen pembelajaran yang dibutuhkan untuk mencapai hasil belajar perlu dikembangkan lebih lanjut. Dalam hal ini dapat dilakukan dengna efektif bila saja guru mampu mengaitkan setiap materi yang diajarkan dengan kehidupan sehari-hari. Dalam kurikuum tingkat satuan pendidikan ini tidak hanya mengedepankan asek akademik, aspek kognitif, psikomotori juga menjadi perhatian utama, setelah lulus siswa dihgarapkan tak hanya mampu secara akademik tapi juga mengedepankan dalam hal leadership, human relation, dan self confient, ini terbukti dengan dikuranginya jam belajar siswa. Sedianya dibebani 42 jam perminggu dengan durasi tiap jam 45 menit.
Di KTSP ini siswa hanya dibebani 38 jam pelajaran. Mengenai pembuatan indikator guru guru diyakini akan mengalami kesulitan, guru bisa berkoordinasi dengna TIM MGMP di tingkat sekolah dan Kota. Tidak hanya perbedaan mencolok antara KTSP dengan kurikulum sebelumnya. Komponen dasarnya sama seperti kurkulum 2004. Indikator dalam KTSP yang dibuat masing-masing sekolah justru memberikan keleluasaan para guru membuat methode pembelajran yang pas untuk siswanya.
Dalam KTSP ini siswa memperoleh materi ilmu-ilmu praktis yang syarat dengna muatan lokal, selain itu guru juga perlu memaksukkan aspek lingkungan dalam indikator yang ia buat, tujuannya agar setelah lulus nanti siswa diharapkan mampu memberikan kontribusi di lingkungan sekitarnya. Oleh karena itu dalam KTSP guru harus mencari sendiri pola pemebelajaran yang mampu memacu prsestasi dan kreatifitas. Jika dulu siswa selalu dibimbing dan diarahkan para guru maka sekarang harus berani membuat keputusan sendiri. Dari segi kurikulum dan pengetahuan, tidak ada perbedaaan signifikan sebab kurikuklum pendidikan nasional itu sama.

2.Pengembangan KTSP
Menggunakana pendekatan KBK yang memmiliki ciri-ciri:
a.Menitik beratkan pecapaian target kompetensi dari sumber daya pendidikan yang tersedia.
b.Lebih mengakomodasikan keragaman kebutuhan dan sumber daya pendidikan yang tersedia.
c.Memberikan kebebasan yang lebih luas kepada pelaskanana pendidikan di lapangan untuk mengemabngkaan dan melaksanakan program pendidikan sesuai kebutuhan.

3.Penyusuanan KTSP
a.Tim Penyususn KTSP
Tim penyususn KTSP pada SD, SMP, SDM da SMK terdiri atas
Guru
Konselor
Kepala sekolah sebagaai ketua merangkap anggota
Di dalam kegiatan tim penyusunan melibatkan komite sekolah, dan nara sumber, serta pihak lain yang terkait, Supervisi dilakukan oleh Dinas yang bertanggung jawab dibidang pendidikan di tingkat Kbupaten / Kota untuk SD / SMP dan tingkat Provinsi ujtuk SMA dan SMK.

b.Tahap Penyusunan
Penyusunan KTSP merupakan bagian dari kegiatan perencanaan sekolah. Kegiatan ini dapat berbentuk rapat dan lokakarya sekolah datau kelompok sekolah yang diselenggarakan dalam jangka waktu sebelum tahun pelajaran baru. Tahap kegiatan penyususunan KTSP secara garis besar meliputi:
Penyiapan dan penyusnan draf.
Review dan revisi
Finasisasi
Pemantapan dan penilaian.

4.Implementasi KTSP
Dalam menciptakan model pembelajaran aktif, kreatif dan menyenangkan (PKEM) sesuai dengna KTSP, guru harus menyadari bahwa pembelajran memiliki sifat yang sangat komplek, karena melibatkan aspek PEDAGOGIS, PSIKOLOGIS, dan DEDICATIC secara bersamaan. Aspek pedagogos menunjuk pada kenyataan bahwa peserta didik pada umunya memiliki taraf perkembangan yang berbeda, yang menuntut materi yang berbeda, yang menuntut materi yang berbeda pula. Selain itu aspek menunjukkan pada kenyataan bahwa proses belajar itu sendiri mengandung s variasi seerti belajar ketrampilan metodik, belajar konsep, (GAGNE 1984).
Untuk kepentingan tersebut guru harus memiliki pengetahuan yang luas mengenai jenis-jenis belajar, kondisi internal, dan eksternal peserta didik serta menciptakan PAKEM.

MODEL PAKEM DALAM KTSP
Model pembelajaran yang melatar belakangi diperkenalkannya PAKEM, adalah bahwa sebagian besar peserta didik dapat menghubungkan apa yang telah mereka pelajari dengan cara pemanfaatan pengetahuan dikemudian hari, dengan kata lain baik pendidik maupun peserta didik di hadapkan pada tanggapan dan masalah bagaimana mencari yang terbaik untuk menyampaikan model pembelajrannya yang mereka ajarkan. PAKEM dapat dilakukan dengan berbagai model antara lain:

A.PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL
Pembelajaran konteksual (Countekstual theaching and learning) yang sering disingkat CTL merupakan salah satu model pmbelajran yang dapat digunakan untuk mengefektifkan dan menyukseskan implementasi KTSP. CTL merupakan konsep pembelajran yang menekankan pada multi aspek lingkungna belajar seperti ruang kelas, laboratorium computer dan sebagaianya. CTL menganjurkan para pendidik untuk memiliki atau mendesain lingkungan pembelajaran yang memadukan sebanyak mungkin pengalaman belajar seperti lingkungna sosial, budaya, fisik dan lingkugnan piekologis untuk mencapai tujuan pembelajran. Siswa diharapakan dapat menemukan hubungan yang bermakna antara pemikiran yang akbstrak dengan penerapan praktis dalam konteks dunia nyata.
Dalam CTL tugas guru adalah: memberikan kemudahan kepada pesera didik, dengan menyediakan berbagai sarana dan sumber belajar yang memadahi. Guru bukan hanya menyampaikan materi pembelajaran yang berupa hapalan, tetapi pengatur lingkungan dan strategi pembelajaran yang memungkinkan peserta didik belajar. Lingkungan yang kondusif sangat penting dan sangat menunjang pembelajaran kotekstual dan keberhasilan pembelajaran secara keseluruhan. Kurikulum dan pembelajranan konteksual perlu di dasarkan atas prinsip dan strategi pembelajaran yang mendorong terciptanya lima bentuk pembelajaran. “Relacting, experiencing, applying, ang transferring.
Penjelasan masing-masing prinsip da strategi adalah sebagai berikut:
a.Keterkaitan, Relevansi (Relating)
Proses pemelajran hendaknya ada keterkaitan (relevansi) dengan bekal pengetahuan (Prerequisite knowledge) yang telah ada paa diri siswa. Dengan konteks pengalaman dalam kehidupan dunianya seperti manfaat untuk bekal bekerja di kemudian hari dalam kehidupan asyrakat

b.Pengalaman Langsung (Experienting)
Dalam proses pembelajaran siswa perlu mendapatkan pengalaman langsung melalui kegiatan eksplorasi, penemuan (Discovery), aventory, investigasi, penelitian dan lain-lain.

c.Aplikasi (Apliying)
Menerapkan fakta, konsep, prinsip ddan prosedur yang dipelajari dalam situasi dan konteks yang lain merupakan pembelajran tingkat tinggi, lebih dari sekedar hafal. Kemmapuan siswa untuk emnerapkan materi yan gtelah dipelajrai untuk digukanan pada situasi lain yang berbeda merupakan penggunaan (use) fakta, konsep, prinsi atau prosedur atau pencapaian tujuan pembelajran dalan bentuk menggunakan (use) “Merril reigevent 1987, P 17).

d.Kerjasama (cooperating)
Kerja sama dan konteks saling tukar pikiran mengajarkan dan menjawab pertanyaan, komunikasi interaktif antar sesama siswa antar siswa dengan guru dan siswa dengan nara sumber., memecahkan masalah dan mengerjakan tugas pokok dalam pembelajranan kontekstual.

e.Alih pengetahuan
Pembelajran kontekstual menekankan pada kemampuan siswa untuk terus transfer pengetahuan ketrampilan, dan sikap yang telah dimiliki dalam situasi lain. Dengan kata lain pengetahuan dan pengetahuan yang telah dimiliki bukan sekedar untuk dihafalkan tetapi dapat digunakan atau dialihkan pada situasi dan kondisi lain.

B.BERMAIN PERAN
Guru yang kreatif senantiasa mencari pendekatan abaru dalam memecahlan maslah, tida terpaku pada cara tertentu yan gmonoton, melainkan memiliki variasi lain yang sesuai. Hasil penelititan dan percobaan yang dilakukan oleh para ahli menunjukkan bahwa bermain peran merupakan salah satu model yang dapat digunakan secara efektif dalam pembelajaran. Melalui bermain peran, para peserta didik mampu mengekspresikan hubungan hasrat manusia dengan cara memperagakan dan mendikusikannya sehingga bersama-sama dengan para peserta didik dapat mengekspresikan perasaan, sikap nilai dan berbagai strategi pemecahan maslah. Dalam bermain peran, pemain tidak dilakukan secara tuntas sampai masalah dapt dipecahkan hal ini dimaksudkan untuk mengundang rasa penasaran peserta didik yang menjadi pengamat agar turut aktif mendiskusikan dan mencari jalan keluar.

C.MODEL PEMBELAJARAN
Modul adalah suatu proses pembelajaran mengenai suatu kesatuan bahasa tertentu yang disusun secara sistematis, operational dan terarah untuk diguakana oleh peserta didik, disertai dengan pedoman penggunaan oleh para guru. Tujuan utama sistem modul adalah untuk meningkatkan efektifitas pembelajaran dengan sistem modul biasanya terfokus pada seperangkat kompetensi yang harus dikuasai peserta didiik sehingga mampu melakukan aktivitas untuk mencapai tujuan pembelajran. Peserta didik diharapakan mengerjakan sendiri tugas-tugas dalam modul atau dalam kelompok kecil sesuai dengan kemampuan dan kecepatannya masing-masing. Dengan sistem modul ini peserta didik mencapai kesempatan lebih banyak untuk belajar sendiri membaca uraian dan petunjuk di dalam lembaran kegiatan. Karena itu setiap peserta didik dalam batas-batas tertentu dapat maju sesuai dengan irama kecepatan dan kemampuan masing-masing.

D.BELAJAR TUNTAS
Belajar tuntas berasumsi bahwa di dalam kondisi yang tepat semua peserta didik mampu belajar dengan baik dan memperoleh hasil yang maksimal terhadap seluruh materi yang dipelajari, agar semua peserta didik memperoleh hasil belajar secara maksimal. Pembelajran harus dilakukan secara sistematis terutama dalam mengorganisaikan tujuan dan bahan belajar, melaksnakaan evaluasi yang dilaksanakan setelah peserta didik menyeleaikan kegiatan belajar, melaksanakan evalusai dan meberikan bimbingan terhadap peserta didik yang gagal mencapai tujuan yang telah di tetapkan. Evaluasi hail dilakukan setelah para peserta didik menyelesaikan suatu kegiatan belajar tertentu merupakan dasar untuk memperoleh (feed back).
Strategi balajar tuntas di kembangkan oleh Bloom (1968), meliputi tig abagian yaitu mengidentifikasi pra kondisi, menghubungkan prosedur dan hasil belajar. Di samping implemntasi dalam pembelajarn klasikal, belajar tuntas banyak di implementasikan dalam sistem pembelajran individu. Sistem belajar tuntas mencapai hasil yang optimal ketika ditunjang oleh sejumlah media baik perangkat keras (hard ware) maupun perangkat lunak (soft ware), termasuk penggunaan komputer (internet) untuk mengefektifkan belajar.

KESIMPULAN

Dari uraian diatas sesungguhnya baik KBK maupun KTSP adalah suatu pendekatan yang sangat baik untuk meningkatkan mutu pendidikan. Karen abik KBK maupun KTSP tidak terorientasi pada kualitas materi lainkan lebih berfokus pada kualitas materi yang diperoleh siswa. Untuk itu guru seyogyanya agar lebih kreatif untuk mencapai terobosan-terobosan untuk mengoptimalkan kemmapuan siwa. Pembelajran yang menyenangkan adalah sutu syarat utama yang harus di upayakan, tidak ada yng tidak mungkin, bila kita mau mencobanya. Selanjutkanya yang menjadi pertanyan adalah apakah SDM dalam hal ini para guru sudah siap melakukan perubahan paradigma mengajaranya, dari pengajaran yang berorientasi pada upaya-upaya yang menghabiskan materi kurikulum semata-mata, kepada penhangajaran yang berorientasi kompetensi? Apakah strategi pembelajaran yang di gunakan selama ini masih efektif digunakan untuk menghasilkan kompetensi yang dituntut dalam KTSP dan KBK? Apakah guru-guru sebenarnya sudah faham dengan system KBK dan KTSP? Jawabnya, hanya para guru jualah yang dapat menjawabnya.

DAFTAR PUSTAKA

Setyawan Aris, Belajar dan pemeblajran matematika, Madiun, 2007
Nasution, Prof. DR, Pengembangan Kurikulum, Bandung. PT. Citra Aditya Bakti 2005
Sartono Wirodikromo, 2002. Kurkulum Berbasis Kompetensi, Jakarta. Pusat Kurikulum Balitbang Depdiknas.
E. Mulyasa, 2002. Kuriikulum Berbbasis Kompetensi, Bandung. Remaja Rosdakarya.
Negoro, ST, 2006. Impelementasi, KBK dalam Proses Pembelajran Bandung; Pradya Paramita.
http://www.Pemantaupendidikan.com /alur.php
http/Jakarta.inymedia.org/newswire.php?story id=189 dan codense comment=false
Sholeh Ridho. MPA 242. 2006. Pembelajaran Tematik dalam KBK. Surabaya; PT. Antara Surya Jaya.
Nihayatul khoiriyah, 2007 Menciptakan Model Pembelajaran Aktif, kreatis, dan menyenangkan (PKEM) sesuai dengan KTSP Surabaya. PT. Antar Surya Jakarta.
Anik Zuraida. 2005. Sistem PAKEM. Sulitkah diterapkan di sekolah? Bandung. PT. Sianr Wijaya.
Wafi Addul 2006. Kurikulum 2006. Jakrta PT. Cipta Raya.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: